Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Hikayat Jampoek; Sebuah Renungan untuk Pilkada


“Hai Teungku Ampon, nyoepat Si Gam lon neuboh keu Raja. Seubab Si Gam lon rupa that ceudah, lagi ngon gagah meubulee mata. Mata jih bulat babah meukuweit, cukop meusaheet Si Gam keu Raja.”


UNGKAPAN di atas merupakan cuplikan dari bait Hikayat Jampoek. Sebuah hikayat yang memiliki filosofi moral tinggi dan holistik (mendalam) bagi manusia dalam memilih pemimpin. Jampoek (burung hantu) menjadi pemeran antagonis dalam hikayat tersebut. Jampoek diidentikkan dengan kesombongan dan memuja diri. Sehingga kata jampoek ini sering menjadi ungkapan bagi masyarakat dalam menyindir manusia sombong dan suka pamer kelebihan, seperti; Bek lagee jampoek atau beuk peujampoek droe, bermaksud jangan sombong atau suka pamer.

Sikap sombong dan memuja diri (pujoe droe) jampoek tersirat dalam hikayat tersebut, ketika Nabi Sulaiman as bermusyawarah dengan seluruh burung (cicem) untuk menentukan raja mereka. Jampoek dengan sigap mengajukan anak laki-lakinya untuk menjadi raja, sambil memamerkan ketampanan fisik anaknya, yakni; rupa that ceudah, lagi ngon gagah meubule mata, mata bulat babah meukuweit (ganteng, gagah, memiliki bulu mata indah, mata bulat dengan paruh bengkok ke bawah/menarik).

Namun demikian, seluruh burung yang lain menolak tawaran jampoek untuk menjadikan anaknya sebagai raja, karena hanya “menjual” ketampanan fisik, bukan keahlian, kompetensi, integritas, kemampuan memimpin (leadership) dan komunikatif. Di antara yang menolak dengan tegas adalah Beurujuk balee dan Tok-tok beuraghoe. Keduanya protes; Teuma ji seuot Beurujuk balee, han kutem dikee jampouk keu raja. Hana meusoe-soe ka tajak lakee, golom meuteuntee tajak peutaba. Lheuh nyan ji seuot Tok-tok beuragoe, hana meusoe-soe taboh keu raja. Seudangkan dilon kupiah beusoe, hantom siuroe lakee keu raja.

Di samping itu, muncul Buroeng keutoek-toek mengajukan diri untuk di angkat sebagai raja, karena dia menganggap dirinya memiliki keahlian untuk memimpin, yaitu keahlian bernyanyi di malam hari (peeh geundrang). Berbeda dengan jampoek yang hanya “menjual” ketampanan fisik, Buroeng keutoek-toek “menjual” keahlian. Sehingga Buroeng keutoek-toek mendapatkan dukungan dari beberapa burung yang lain seperti Eunggang (Bangau).

Perdebatan Burung
Perdebatan para burung tersebut membuat Nabi Sulaiman as tersenyum bahagia. Namun tiba-tiba cicem Keudidi dengan bijak mendamaikan perdebatan para burung tersebut dengan memberikan jabatan/pimpinan sesuai dengan keahlian mereka, bukan hanya karena ketampanan fisik.

"Teuma jidamee uleh Keudidi, si Rajawali tabouh keu raja. Cicem Dama peudana meuntri, beurujuk Campli keupala teuntra. Lheuk bangguna taboh keu meuntri, keupala negeri nyoe cicem Dama. Kleung puteh ulee keupala peulisi, si Mirapati jeut keu wedana. Keu peuneurangan po cicem Tiong, nyang mat hukom po cicem Pala. Tok-tok beuragoe keu geuchiek gampong, cicem Keucuboung keu ureung ronda. Cicem bubruk keuma bidan, seubab digobnyan geukuwa-kuwa, dum cicem laen duk keu rakyat."


Itulah cuplikan pemilihan raja cicem yang diselenggarakan oleh Nabi Sulaiman as bersama seluruh burung ketika itu yang dinukil dalam Hikayat Jampoek. Hikayat tersebut sangat cocok dipublikasi kembali dalam konteks Aceh yang sedang marak dengan isu suksesi kepemimpinan atau Pilkada 2017. Sebagai masyarakat Aceh yang memiliki budaya dan adat istiadat bernilai luhur tinggi, maka patut untuk merenungkan hikayat tersebut dalam menjaring calon pemimpin Aceh ke depan, agar masyarakat tidak salah pilih.

Oleh karena itu, tahun ini akan menjadi thoen jampoek, yaitu tahun di mana orang berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi pemimpin Aceh ke depan. Bahkan di antara mereka sangat percaya diri untuk maju sebagai calon pemimpin Aceh, karena wajar dalam konteks demokrasi semua orang berhak memilih dan dipilih atau mencalonkan dan dicalonkan. Namun kendali dan kontrol ada pada masyarakat. Maka masyarakat harus berhati-hati pada thoen jampoek ini, jangan sampai “disumpal” dengan informasi keliru dan janji-janji palsu.

Masyarakat harus membedakan antara calon pemimpin berkarakter jampoek dengan pemimpin yang berkarakter Buroeng keutoek-toek. Pemimpin berkarakter jampoek adalah mereka yang mengedepankan kesombongan, menganggap hanya merekalah yang paling mampu memperbaiki kondisi Aceh saat ini, sedangkan calon yang lain tidak mampu. Dan mereka akan memuja-muja diri mereka sebagai orang/golongan yang paling layak dan pantas untuk memimpin Aceh, sedangkan yang lain tidak pantas dan tidak layak. Padahal hakikatnya mereka tidak memiliki keahlian dan kemampuan leadership mumpuni untuk memimpin Aceh, mereka hanya mengandalkan ketampanan fisik, kemegahan, kekuatan golongan dan partai, dan label awak droe teuh serta janji-janji manis semata.

Sedangkan pemimpin berkarakter Buroeng keutoek-toek adalah mereka yang tidak hanya “menjual” penampilan dan ketampanan serta kekuatan golongan/partai semata, mereka juga menawarkan visi dan misi yang jelas dan keahlian dan kemampuan leadership mumpuni. Mereka tidak hanya pintar berjanji, akan tetapi juga bertekad menepatinya. Mereka tidak hanya pintar ngomong, akan tetapi juga pintar melaksanakan dan mempraktikkan omongan, tidak hanya sekadar janji tapi bukti.


Masyarakat Cerdas
Maka masyarakat diharapkan cerdas menimbang-nimbang orang-orang yang saat ini sudah menyatakan diri maju sebagai pemimpin Aceh pada Pilkada mendatang. Jangan sampai masyarakat memilih pemimpin berkarakter jampoek, tanpa keahlian dan leadership. Dalam posisi itu, masyarakat harus memiliki karakter cicem Keudidi, yaitu bijak dalam menentukan pilihan dan memilih orang-orang yang ahli di bidangnya. Jangan hanya tergiur oleh janji-janji manis yang tidak realistis dan irrasional. Cicem Keudidi mencerminkan masyarakat yang cerdas dan bijak dalam memilih pemimpin. Pemimpin dipilih berdasarkan kemampuan dan leadership yang mumpuni.

Oleh karena itu, peran para intelektual, LSM dan media sangat penting untuk mencerdaskan masyarakat dengan memberikan informasi yang benar terhadap calon-calon pemimpin Aceh ke depan. Sehingga masyarakat diharapkan mendapatkan informasi yang jelas dan akurat tentang rekam jejak (track record) orang-orang yang akan mereka pilih, agar masyarakat tidak terjebak pada ungkapan; katanya, katanya dia mampu, katanya dia layak dan lain sebagainya. Jika masyarakat masih memberikan jawaban “katanya dan katanya” dalam memilih pemimpin Aceh ke depan, bukan mustahil yang akan terpilih adalah pemimpin berkarakter jampoek, sehingga setelah terpilih mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk kemajuan Aceh.

Dengan demikian, semua orang boleh mencalonkan diri sebagai pemimpin, namun tidak semua orang layak diangkat sebagai pemimpin. Pemimpin tidak dilahirkan secara instan, namun mereka terlahir dari sebuah proses yang sangat panjang. Mereka ditempa, dibina, digembleng dan dilatih bertahun-tahun, sehingga memiliki keahlian, integritas, dan kemampuan leadership yang mumpuni serta komunikatif dalam menjalankan program-program yang dicanangkan. Menjadi pemimpin juga bukan pekerjaan mudah dan gampang tetapi pekerjaan yang sangat berat, tidak hanya dipertanggungjawabkan dihadapan manusia tetapi juga dihadapan Allah Swt.

"Semoga pemimpin Aceh ke depan berkarakter Buroeng keutoek-toek, bukan berkarakter jampoek, dan masyarakat (pemilih) memiliki karakter Keudidi, bijak dan mampu memilih yang terbaik sesuai dengan bidangnya. Amiin!!"


*Adnan, S.Kom.I.,
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Dikutip dari rubrik opini pada media Serambi Indonesia yang dirilis tanggal 13 April 2016

Kamis, 31 Maret 2016

"Gam Cantoi in Memorian"


Tulisan ini saya kutip dari rubrik opini pada media Aceh Trend dengan judul Gam Cantoi in Memorian, yang ditulis oleh Fadhli Espece. Tujuannya simpel, hanya karena saya merasa tidak ingin melupakan sejarah, kartun-kartun unik dan lucu penuh makna tersebut pernah menjadi rentetan saksi bisu dalam proses saya mengenal kehidupan dan memaknai arti berkehidupan itu sendiri terutama tentang dinamika yang terjadi di Aceh pada masa itu. Saya juga yakin tidak sedikit diantara rekan-rekan juga merasa hal yang sama dengan Fadhli Espece dan saya. Semoga bermanfaat.

--o0o--

Bagi pembaca yang tidak familiar dengan nama Gam Cantoi, perlu diketahui bahwa Gam Cantoi di sini bukanlah bagian dari Gerakan Aceh Merdeka yang dipimpin oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro tempo hari. Jika anda membayangkan suatu informasi tentang GAM sebaiknya segera tinggalkan tulisan ini karena di sini tidak sedang mengulas tentang gerakan yang menuntut kebebasan itu.

Dulu, walaupun masih kecil aku masih ingat, hampir setiap hari setelah pulang kerja dari kantor Ayah pasti membawa pulang koran ke rumah. Jika bukan hari kerja biasanya aku juga diajak untuk membeli koran di simpang Sampoiniet, perbatasan Lamlagang-Neusu Aceh. Saat itu—bahkan sampai kini—Harian yang pernah memuat rubrik kartun GAM Cantoi adalah koran favorit yang menjadi bacaan keluargaku bahkan seluruh rakyat Aceh, dari kedai kopi sampai kedai kopi lagi.

Dari 6 anggota keluarga, Ayah merupakan orang yang membaca paling banyak dari ratusan berita di koran. Ayah biasanya paling suka tentang berita di halaman “internasional” yang membahas tentang isu-isu politik di luar negeri. Kalau Ibu biasanya hanya membolak-balikkan lembaran utama atau paling tidak—sebagai penduduk Banda Aceh—membaca halaman “Kutaraja” karena halaman ini berisi berita-berita yang terjadi di kawasan Banda Aceh dan sekitarnya.

Rambut boleh sama hitam tapi isi kepala siapa bisa jamin? Berbeda dengan Ayah dan Ibu, halaman favorit anak-anaknya yang semuanya laki-laki adalah halaman Olahraga dan Sepakbola. Disini banyak berita tentang klub-klub sepakbola lokal dan nasional seperti Persiraja, Persija, Persib dll. Untuk berita sepakbola internasional juga tidak ketinggalan berita persaingan ketat dan sepakbola indah La Liga, Primier League dan Serie A.
Berawal dari sini lah aku mengenal AC Milan melalui gambar-gambar heroik Andriy Shevchenko dkk yang kemudian membuatku menjadi Milanisti garis keras. Jika dipikir-pikir saat itu aku belum lancar membaca dan hanya bisa melihat gambar-gambar striker yang mencetak gol ke gawang lawan atau sekedar mengamati klasemen sementara liga-liga di eropa dengan seksama. Tapi kalau memang jodoh takkan kemana, kharisma AC Milan telah membuatku jatuh hati dengan segudang prestasinya, walau saat ini rimuengitu sedang tengeut sebentar.

Rubrik Terheboh

Dari sekian banyak berita yang disajikan Harian Serambi Indonesia ada sebuah rubrik yang tak ingin ditinggalkan oleh pembacanya, mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek.Chik putik tuha muda semuanya tidak ingin melewatkan rubrik yang satu ini. Rubrik terheboh itu adalah sebuah rubrik kartun yang diberi nama dengan Gam Cantoi karya M Sampe Edward S.

Konon, rubrik kartun Gam Cantoi merupakan panggung kritik sosial dengan selera humor yang tinggi. Selain kocak dan menggelitik kartun ini memiliki ciri khas tersendiri. Gam Cantoi mampu menghibur pembaca dengan adegan-adegan tanpa percakapan. Artinya kekonyolan Gam Cantoi lahir dari adegan-adegan yang diperagakannya tanpa berbicara. Biasanya Gam Cantoi dalam tiga kolom kartun tersebut juga mengikutsertakan istri dan anak-anaknya yang juga tidak kalah konyolnya.

Gam Cantoi memiliki postur tubuh yang tinggi dan kurus (pijuet panyang), rambutnya keriting dengan sehelai rambut yang menjulang tinggi di bagian depan. Pakaiannya sederhana; perpaduan baju oblong dengan kombinasi celana panjang beserta sarung yang dipinggangnya diatas lutut ala pejuang aceh tatkala melawan kolonial belanda di masa penjajahan silam. Anak-anaknya yang masih kecil berkepala plontos dengan sehelai rambut yang menjulang dibagian depan seperti halnya sang ayah. Mungkin film melayu anak-anak yang terkenal dari negara tetangga tersebut terinspirasi dari anak Gam Cantoi ini, mungkin.

Dengan sketsa yang seperti inilah M Sampe Edward mencoba menghibur seluruh penikmat koran tempat dia bekerja. Gam Cantoi hadir untuk mencairkan suasana di tengah kasak-kusuk dan hiruk pikuknya sistem pemerintahan dan perpolitikan negeri ini. Didalamnya juga tidak luput kritikan dan sindiran kepada instansi pemerintahan dan para pejabat yang tidak becus mengurus negeri ini bahkan termasuk ketimpangan sosial yang sedang terjadi saat itu.

Dulu, bagi anak-anak yang seumuran denganku, yang belum lancar mengeja huruf, kartun Gam Cantoi merupakan rubrik yang ditunggu-tunggu. Jika ada koran itu maka halaman yang dicari adalah halaman yang ada rubrik Gam Cantoi-nya karena jika sudah melihat Gam Cantoi rasa puasnya sama seperti mengkhatamkan seluruh isi Harian Serambi Indonesia.

Hobi menikmati rubrik kocak ini terus berlanjut sampai aku besar hingga akhirnya sang arsitek dibalik kartun ini dipanggil menghadap Allah SWT. Muhammad Sampe Edward S, kartunis “Gam Cantoi” meninggal dunia pada Sabtu 30 Maret 2013 sekitar pukul 18.50 WIB di RS Herna, Medan (aceh.tribunnews.com)

Sejak berpulangnya M Sampe Edward, kartun Gam Cantoi juga mengikuti jejak tuannya. Sampai kini, tepat tiga tahun setelah kita semua didahului oleh kartunis legendaris ini tak ada lagi rubrik kartun Gam Cantoi atau yang sejenis dan sepadan dengannya yang menghiasi halaman media tersebut. Mungkin ini merupakan sinyal kepada kita semua bahwa saat ini Aceh sedang mengalami krisis seniman di bidang kartun dan karikatur.
Pada akhir tulisan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada sang kartunis legendaris ini yang telah banyak memberi semacam rangsangan dan stimulus kepada para pembaca tentang bagaimana cara untuk memaknai dan menginterpretasi kartun yang hanya berisi tiga kolom tersebut. Terima kasih M Sampe Edward, terima kasih Gam Cantoi yang telah menjadi penghibur di masa kanak-kanak hinga masa remajaku. Semoga Allah menempatkannya di tempat yang layak disisi-Nya dan mengganjar seluruh amal kebaikannya dengan ganjaran yang pantas.


--o0o--

Amiin..