Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2016

Renungan Kocak; Ke-Anehan Indonesia


Suatu waktu di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ada pertemuan yang mengklasifikasikan bangsa-bangsa di dunia berdasarkan bicara dan kerjanya.

Setelah bersidang untuk menelaah semua informasi yang terkait, maka dibagilahbangsa-bangsa di dunia ini menjadi empat kelompok.

Kelompok pertama; yang sedikit bicara sedikit kerja (Negara-negara Afrika)

Kelompok kedua; yang sedikit bicara banyak kerja (Jepang, Korea, Cina)

Kelompok ketiga; yang banyak bicara banyak kerja (Amerika dan Eropa Barat)

Kelompok keempat; yang banyak bicara sedikit kerja (India, Pakistan, Bangladesh)

Delegasi Indonesia protes kok tidak masuk dalam kelompik manapun?Maka PBB kembali bersidang untuk meletakkan posisi Indonesia dimana. 

Setelah menganalisis berbagai sumber yang valid, meka mereka mengambil kesimpulan bahwa memang Indonesia tidak masuk dalam empat kelompok tersebut.

Mengapa?

Karena ternyata orang Indonesia “lain yang dibicarakan, lain yang dikerjakan”Coba diamati kebenarannya!!!

Kamis, 07 April 2016

Renungan; Lilin dari Si Miskin

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah Ayat 2)


--o0o--

Terdapat seorang gadis yang menyewa rumah, bersebelahan dengan kontrakannya terdapat rumah seorang ibu miskin dengan dua anaknya.
Suatu malam tiba-tiba listrik padam, dengan bantuan cahaya handphone gadis itu ke dapur untuk mengambil lilin, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kontrakannya...
Ternyata yang datang adalah seorang anak miskin dari ibu di sebelah rumahnya. Anak itu bertanya dengan risau, "Kakak punya lilin tidak?" gadis itu berfikir, dibenaknya tertanam kata “JANGAN PINJAMKAN, nanti akan menjadi kebiasaan untuk terus-menerus meminta.”
Maka si gadis menjawab, "TIDAK ADA!”. Lalu si anak miskin berkata lembut dengan senyum manis dan polos di bibirnya, “Saya sudah duga kakak tidak punya lilin, ini ada dua lilin saya bawakan untuk kakak, kami khawatir karena kakak tinggal sendirian dan tidak ada lilin.”
Si gadis yang merasa bersalah lantas menagis tersedu-sedu, dengan linangan air mata dia memeluk anak kecil itu erat-erat dan berkata, “Subhanallah, maafkan saya wahai adik.”

--o0o--

Jangan menilai keburukan orang lain hanya karena mereka kelihatan MISKIN/TIDAK MAMPU, INGAT…!!! Kekayaan tidak bergantung pada seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa kita mampu untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan, tidak peduli miskin maupun kaya.

Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa, dan kaya bukan berarti punya segalanya. Mungkin hari ini kita diatas tanah, tapi suatu saat kita pasti akan berada didalamnya. Hidup hanya sekali, maka usahalah untuk tidak hanya menjadi manusia sukses, tapi juga bernilai.


Diriwayatkan dari Musadad, diriwayatkan dari  Mu’tamar, dari Anas. Anas berkata: Rasulullah bersabda: Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan sedang berbuat zhalim atau sedang teraniaya. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami akan menolong orang yang teraniaya. Bagaimana menolong orang yang sedang berbuat zhalim?” Beliau menjawab: “Dengan menghalanginya melakukan kezhaliman. Itulah bentuk bantuanmu kepadanya."

Wallahualam Bishawab

Ibadah vs Akhlak


Wahai Syaikh..!! Ujar seorang pemuda, "Manakah yang lebih baik, seorang Muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaknya buruk ataukah seorang yang tidak beribadah tapi amat baik perangainya kepada sesama..??"

"Subhanallah, keduanya baik", ujar Syaikh sambil tersenyum.

"Mengapa bisa begitu?", lanjut si pemuda,

"Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing oleh Allah untuk berakhlak mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing oleh Allah untuk semakin taat kepada-Nya."

"Jadi siapa yang lebih buruk?" desak si pemuda,

Air mata mengalir di pipi sang Syeikh, lalu beliau menjawab "Kita Anakku.. Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri."

Beliau terisak-isak, "Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanya tentang diri kita, bukan tentang orang lain."

Wallahu'alam Bishawab..