Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

"SEMESTA CAHAYA"


Sinopsis:
--o0o--

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”


Tak terkira lagi isakan tangisan yang pecah dan air mata yang tumpah ketika bibirku terbata-bata mengulang ayat-ayat terakhir tersebut. Kuulangi lagi, kuulangi terus hingga dadaku sesak dibuatnya. Ternyata tidak butuh waktu lama, Allah menjawab segala do'a yang bermuara pada-Nya, termasuk do'a seorang hamba yang hina sepertiku.

Maka benarlah jika shalat dan do'a adalah tumpahan kata-kata berbalut sesal dan resah kita pada Allah, maka Alquran adalah kata-kata dan jawaban Allah untuk setiap do'a kita.

Setelah hari itu segalanya berubah, bukan karena negara api menyerang. Melainkan karena hidayah yang diawali mimpi yang kudapatkan beberapa waktu yang lalu. Mimpi tentang semesta antah berantah yang menjadi titik balik bagi hidupku.

Aku memutuskan untuk berhijrah dari segala segi. Hijrah keyakinan agar sepenuhnya tertambat pada-Nya, hijrah pemikiran, hijrah dari kesenangan dunia yang melalaikan, dan hijrah dari tingkah laku dan kepribadian.
Bukankah hijrah adalah bukti cinta? Meninggalkan apa apa yang Allah benci menuju apa yang Allah cintai.

--o0o--

Semoga bermanfaat ðŸ˜Š

Kamis, 31 Maret 2016

“Cinta Seorang Lelaki”



Berikut ini adalah cerpen mengharukan karya rekan saya Muhammad Razannur, seorang sarjana pertanian lulusan Universitas Almuslim Bireuen - Aceh yang mulai menemukan jati dirinya melalui karya sastra baik puisi, cerpen, maupun kata-kata motivasi. Selamat membaca dan menikmati karya beliau, kritik dan saran dapat langsung di posting di kolom komentar dibawah ini.

--o0o--

Dia adalah pemuda sebatang kara, hidupnya penuh dengan derai air mata hingga senyuman menjadi pelipu laranya. Dalam perjalanannya mencari kerja di sebuah kota, dia bertemu dengan satu keluarga yang tidak ada senyuman maupun canda. Ketika dia tau ternyata dalam keluarga tersebut, seorang istri yang ditinggalkan suaminya, dua orang anak perempuan yang ditinggalkan oleh ayahnya dan seorang ibu yang ditinggal pergi anaknya. Keluraga tersebut kelam dalam air mata, tanpa tawa yang mengisi hari-hari mereka. Pemuda tersebut bernama Rafa dan ia bertemu dengan seorang wanita tua yang juga sebatang kara. Wanita tersebut adalah tetangga dari keluarga yang tak punya lagi imamnya. Rafa mulai merasakan cinta dari seorang ibu yang selama ini belum pernah dicicipinya dan mereka berdua hidup bahagia.

Rafa bekerja pada sebuah restoran yang pemiliknya kini menganggapnya seorang anak. Kebaikan dan kejujuran yang Rafa berikan telah membawa kebahagian untuknya. Setiap hari sabtu dan minggu dia libur kerja dan duduk di rumah menemani ibu angkatnya. Melihat tetangganya yang selalu ribut dan bertengkar setiap harinya. Suara anak kecil menangis sampai suara seorang nenek yang memarahi menantunya. Di teras kamarnya Rafa melihat seorang gadis sedang duduk di samping jendela sambil menatap ke arah jalan. Wajahnya yang kusut dan air mata yang terus berjatuhan. Gadis tersebut bernama Safa, dia adalah seorang mahasiswi di perguruan tinggi di kota tersebut. Safa adalah sosok anak manja dan ceria namun semua itu berubah ketika ayahnya pergi tanpa kabar dan tak kembali sampai sekarang. Rafa terus terbayang-bayang dengan gadis yang memiliki lesung pipi di wajahnya hingga siang dan malam dia memikirkannya. Suatu ketika Rafa mencoba bertamu ke rumah tersebut dan dia pun di sambut manis oleh ibu dari gadis yang berlesung pipi itu.

Bulan demi bulan telah berlalu, Ibu angkat Rafa dan juga Rafa dengan tetangganya telah menjadi sebuah keluarga baru. Hari-hari bahagia mengisi keluarga tersebut, canda dan tawa mewarnai ruang-ruang di rumahnya Safa. Terkecuali Safa, dia tetap menjadi gadis pendiam dan jarang berbicara. Safa memiliki seorang sahabat yang bernama Iman, mereka selalu bersama terutama saat di Kampus. Iman adalah seorang anak dari keluarga yang kaya. Mereka berteman sudah sangat lama dan Iman menyimpan perasaan kepada Safa namun dia tidak ingin merusak persahabatannya. Rafa yang telah menjadi bagian dari keluarga Safa, seakan dia menjadi anak laki-laki dari keluarga tersebut. Kebahagian demi kebahagian terus dia lukiskan untuk keluarga tersebut dan juga kepada ibu angkatnya. Rafa merasakan adanya kesedihan mendalam yang disimpan oleh Safa. Rafa tak pernah melihat adanya senyuman dari wajahnya Safa hingga Rafa datang dan mengganggunya. Saat itulah bermula kedekatan mereka. Rafa selalu menemani Safa saat ia berada di rumah, mereka sudah seperti adik dan abang. Kebahagian terus-menerus ditawarkan oleh Rafa hingga Safa tersenyum juga.

Sejak hari tersebut, Safa selalu tersenyum ceria dan ia merasakan adanya kenyamanan dari pemuda yang telah memberikan pelangi untuk keluarganya. Safa mulai mengaguminya dan diam-diam mencintainya. Waktu terus berjalan dan kebahagian pun terus berdatangan. Akhirnya Rafa sadar jika Safa mencintainya namun gadis tersebut tidak mengetahui jika Rafa telah telah menyadarinya. Air mata Rafa berjatuhan saat cinta tulus hadir dalam hidupnya. Rafa tidak pernah memperlihatkan atau menceritakan kesedihannya kepada orang lain. Rafa terus memberikan kebahagian untuk orang lain dan dia mengubah duka menjadi senyuman. 

Rafa mulai menceritakan pada ibu angkatnya tentang Safa yang mencintainya. Air mata membasahi pipi Rafa saat ia bercerita tentang Safa kepada ibunya.
“Kenapa kau menangis nak?, bukankah cinta itu adalah kebahagian” tanya ibunya.
“Bu, aku sangat mencintai Safa. Saat pertama kali melihatnya, cinta itu telah ada dalam hatiku. Bu, aku menginginkan dia bahagia” jawab Rafa dengan suara lesu.
“Kaulah kebahagiannya dan kau yang telah mengajarkan senyuman kepadanya” ibunya berkata sambil mengelus-ngelus kepala Rafa.
“Tidak Bu, aku bukanlah kebahagiannya” kata Rafa.
“Nak, mengapa kau berkata demikian?” tanya ibunya.
“Bu, aku mengidap penyakit kanker jantung. Ibu ingat setiap sebualan sekali pada hari senin sampai selasa aku selalu berpamitan kepada ibu untuk pulang ke kampung halamanku. Aku bohong bu, setiap sebulan sekali aku harus periksa keadaanku. Terakhir aku memeriksanya keadaanku semakin buruk bu dan hari senin ini aku harus menginap di rumah sakit untuk perawatan intensif selama satu bulan. Bu, aku tidak ingin Safa menderita bila aku telah meninggal nanti. Aku ingin dia bahagia, lebih baik dia membenci ku daripada menderita seumur hidupnya. Bu, jangan katakan hal ini kepada orang lain terutama Safa dan sampaikan kepada Safa serta keluarganya bahwa kepergianku selama satu bulan nanti karena pulang kekampung halaman untuk bertunangan dengan kekasihku di sana. Aku yakin bu, saat dia mendengar kabar jika aku telah bertunangan mungkin dia akan melupakan cintanya. Bu aku ingin dia bahagia” cerita panjang Rafa sambil menangis kepada ibunya.

Air mata terus mengalir dipipi ibunya dan tangisan histeris pun tidak terelakkan. Telah tiba waktunya untuk Rafa menginap di rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama satu bulan. Rafa berangkat dari rumah ibunya dan juga berpamitan pada keluarga Safa. Saat Safa telah pulang dari kampus pada hari tersebut, dia mencari Rafa kesana kemari lalu bertanya kepada ibunya “Abang Rafa kemana bu? Dia tidak ada dimana-mana aku sudah lelah mencarinya”. “Rafa telah pulang ke kampung halamannya tadi pagi, katanya dia pulang untuk bertunangan dengan kekasihnya dan bulan depan dia baru balik kemari” jawab ibunya Safa. Kesedihan dan kekecewaan mulai merasuk pikiran Safa, perasaannya seakan hancur dan terjatuh seperti tetesan air matanya. Di dalam kamar ia mengurung diri dan menangisi kepedihan hatinya. Hari-hari dengan wajah murung dilalui oleh Safa hingga Iman datang dan menghiburnya. Safa menceritakan kesedihannya kepada Iman, dia sangat mencintai Rafa namun Rafa telah bertunangan dengan orang lain. Seketika Iman berjatuhan air matanya,dia sedih jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Orang yang selama ini ia cintai ternyata mencintai orang lain. Iman terus menghibur Safa sambil membuat dirinya tegar. Kesedihan terus mengarungi hari-hari Safa dan Iman.
Satu bulan kemudian, Rafa telah pulang dari rumah sakit dan orang pertama yang ingin dijumpainya adalah Safa. Safa yang telah kecewa berat dan ia tidak menghiraukan kedatangan Rafa ke rumahnya. Sejak hari itu sampai dengan sekarang ini, Safa yang telah lulus dari kuliahnya dan juga telah bekerja, ia tidak lagi peduli dengan Rafa. Jauh dilubuk hati terdalam, Safa masih sangat mencintai Rafa namun kebencian telah menutup hatinya. Setiap malam di dalam kamarnya, Rafa terus menangis untuk menepis kepedihan hidupnya. Rafa menginginkan kebahagian selalu ada untuk Safa, dan ia pun tau jika Iman juga tulus mencintai Safa. Rafa berencana untuk menyatukan Iman dengan Safa agar Safa bisa melupakannya dan bila ia telah meninggal nanti Safa telah memiliki seseorang yang selalu memberikan senyum untuknya. Sampai saat ini, tidak seorangpun tau tentang penyakitnya kecuali ibunya. 

Rafa mulai menjalankan rencananya dan dalam waktu tiga bulan, ia telah berhasil membuat mereka berpacaran. Safa yang masih membenci Rafa dan tetap tidak peduli dengannya. Rafa hanya tersenyum saat Safa selalu berpaling darinya bila mereka berjumpa. Rafa berkata dalam hatinya “Aku sangat mencintaimu Safa, aku ingin engkau bahagia dan Imanlah yang akan membahagiakanmu”. Waktu yang terus berjalan sampai akhirnya, Rafa berhasil membuat Iman untuk berani melamar Safa. Proses lamaran pun berjalan lancar hingga berujung kepada pernikahan, Safa masih tidak mau bicara dengan Rafa. Saat perayaan perkawinan Iman dan Safa, Rafa mendatangi mereka dan memberikan selamat. 

Ibunya yang menemaninya berjalan pulang setelah mengucapkan kata selamat kepada Safa dan Iman. Sesampainya di pintu rumah Rafa terjatuh pingsan, ibunya segara membawakannya ke rumah sakit. Dokter mengatakan “jika terjadinya penyumbatan aliran darah pada jantung Rafa dan telah terjadi pembengkakan pada cincin jantungnya”. Hidup Rafa hanya satu hari lagi dan penyakit yang dideritanya telah menggerogoti cinta dalam hidupnya.

Malamnya Rafa tersadar dan ia meminta kepada ibunya untuk memberikan surat yang ada di bawah bantal tidurnya di rumah kepada Safa. Tubuh yang lelah dan rasa sakit yang terpaku membuat Rafa tertidur kembali. Pagi telah tiba, Ibunya membangunkan Rafa dari tidurnya dan ternyata Rafa telah meninggal dunia. Pesan Rafa semalam segera dilakukan oleh ibunya. Surat tersebut langsung diserahkan kepada Safa. Saat Safa membuka surat dari Rafa dan membacanya, air matanya berjatuhan dan tak terhentikan. Dalam surat tersebut Rafa mengatakan jika ia sangat mencintai Safa dan menginginkan dia bahagia. Rafa tidak mau ada kesedihan yang menemani hari-harinya Safa, karena akhirnya nanti Rafa harus pergi dan tidak kembali untuk selama-lamanya. Tangisan histeris mengisi ruang tamu rumah Safa, ibunya dan neneknya sangat terkejut mendengar kabar tentang Rafa yang telah meninggal. Rafa begitu mencintai Safa hingga ia mencarikan kebahagian untuk Safa dan rela dibenci oleh Safa karena keinginannya itu. Mencintai menurut Rafa adalah memberikan kebahagiaan untuk orang yang disayang, menjaga perasaannya, melindunginya dan menghapus lukanya.


--o0o--

Rabu, 30 Maret 2016

"Kekuranganmu Adalah Alasanku Mencintaimu"

SERINGKALI pegiat cinta yang tulus dihadapkan pada pilihan sulit. Saat menawarkan diri untuk menikah dengan harapan bisa menyempurnakan separuh agama, namun kecintaannya menolak untuk dijadikan karib rumah tangga. Alasan yang umum diujarkan masih belum siap lahir-batin, karena merasa terlalu banyak kekurangan dalam dirinya.

Saat seseorang yang kau cinta mengujarkan, “Aku terlalu banyak kekurangan.” Katakanlah padanya, “Justru itulah alasanku mencintaimu, karena akan menjadikanku berusaha melebihkan segala sesuatu yang belum dirimu miliki saat ini.”

Pada prinsipnya semakin banyak kekurangan dalam diri pasangan, maka semakin besar kemungkinkan berguna baginya saat berumah tangga. Bukankah berdayaguna secara maksimal untuk seseorang yang dicinta merupakan tujuan yang ingin dicapai seorang pegiat cinta sejati. Sehingga, pemunculan pernyataan demikian justru harus menjadi motivasi yang menyaran maksud semakin banyak kekurangannya semakin besar keyakinan untuk mendampinginya sebagai karib rumah tangga. Harapannya, apa yang belum dimilikinya bisa dipenuhi dengan sepenuh tanggung jawab.

Pendampingan cinta terbaik hanya bisa dilakukan sedekat mungkin, dan tak ada kedekatan yang lebih tinggi derajatnya selain menyatukan dua hati dalam pernikahan. Apabila sudah menikah dimungkinkan untuk melakukan perbuatan yang bukan sekadar setengah-setengah karena sudah ada sebentuk pertangggungjawaban kepada Allah.

Menikah itu ibadah, bila menjadikan pernikahan sebagai permainan jelas sebuah kecerobohan. Untuk itulah, jangan pernah menawarkan cinta bila belum sebenar yakin lahir-batin untuk membina mahligai rumah tangga. Sesungguhnya kesanggupan kerja akhlak dan tindak mesti dibangunkokohkan dalam perbuatan, termasuk dalam perkara cinta. Atas dasar itulah, pondasinya harus benar-benar kuat yakni syiar agama melalui pernikahan agar bisa mencipta keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah serta mencetak pewaris-pewaris semesta yang tangguh di takwa dan santun di jiwa.

Demikianlah, saat memberanikan diri mengujarkan kesediaan melebihkan sesuatu yang belum dimiliki seseorang yang berniat dinikahi, pada saat itu kita sudah mulai berdoa semoga Allah juga berkenan membuka pintu rezeki-Nya. Hal ini dasarkan pada keberanian kita untuk membebaskan diri dari tipudaya zina akibat perangkap syahwat Iblis durjana dan Insya Allah keberanian itu bernilai kebaikan.

Sedangkan Allah telah berfirman dalam Qur’an Surah Al-Zalzalah [99]: 1-8 yang artinya “…Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya…” sehingga bermohon keberkahan menjadi pilihan bijaksana yang patut diujarkan pada saat menawarkan diri untuk mengajak seseorang yang dicinta menjadi pasangan hidup. Menikahlah, kemudian bersatu padulah bersama pasangamu untuk meyakinkan-Nya bahwa kalian betul-betul murni memuliakan cinta sebagai sarana menyempurnakan separuh agama. Percayalah rezeki akan dibuka oleh-Nya.

Sebagaimana yang telah dijanjikan Allah Ta’ala dalam Qur’an Surah an-Nur [24]: 32 yang artinya, “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”


Semoga kutipan dari sumber di atas bisa menjadi referensi bagi kita yang akan melanggeng kejenjang pernikahan, jadikan semua niat yang ada semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT. Mari semangat mengejar cinta karena Allah.. Bismillah :)

Rabu, 23 Maret 2016

"Tausiah Cinta"




Bagaimana caranya menjelaskan rindu kepada

seseorang yang entah siapa dan dimana saat ini.

Untukmu yang jauh disana,terkadang mata ini iri

kepada hati,karena kau ada dihatiku namun tidak

nampak dimataku...

‪#‎Tausiah_Cinta‬

Lantas Apa?

















Apa yang kau harapkan dari membakar kayu basah yang kau tau itu tak mungkin?

Apa yang kau harapkan dari berusaha keras menyalakan api besar hanya untuk meng-abu-kannya yang kau tau itu juga akan membakarmu?

Salahkah hujan yang melumurinya dengan air sebagai tanda cinta atas kehidupan?

Apa yang kau harapkan dari semua kebencian itu?

Apa yang sebenarnya ingin kau bunuh darinya?

Sadarkah bahwa kau telah melenyapkan sebatang kayu?

Oh tidak!! Bukan hanya sebatang kayu

Kau telah melenyapkan pohon, pohon yang baru saja mengumpulkan tenaga untuk hidup setelah sekian lama layu bahkan hampir mati karena putus asa

Pohon yang baru saja kembali hidup dan menemukan arti cinta dari belaian hujan yang dikirimkan oleh pemilik cinta dan kehidupan sejati

Pohon yang baru saja mengeluarkan semerbak harum khas dari dedauan hijau muda diujung ranting-ranting yang sebelumnya kering

Pohon yang sedang menari bersama nyanyian alam menanti hari bahagia saat hadirnya buah manis dari penantian panjang

Dan semua itu kini berakhir, Yaa!! Kau telah berhasil membakarnya

Dia yang kau sebut sebatang kayu dan ternyata adalah sebuah pohon

Dia yang kau benci dan ternyata membawa cinta

Saatnya kau tinggal menikmati pemandangan tersisa dengan tatapan kosong

Perlakuan hujan yang melenyapkan abu sesaat setelah dia menjadikan awan tiada

Kekejaman hujan yang telah melukis kehidupan lantas menghapusnya secepat yang kau mau

Lalu mengapa?

Salahkah dia yang ingin mencintai hidup dengan sederhana

Layaknya kata yang tak sempat diucapkan kepada api yang menjadikannya abu?

Dia hanya ingin menikmati cinta dengan sederhana

Seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Lantas yang kau dapat setelah itu?