Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2016

Kami Bukan Pengikut Abdullah Bin Ubay !


WAHAI alam, bersahabatlah dengan kami, para manusia yang mendurhakaimu selamanya! Engkau kenal kami melebihi diri kami sendiri. Sebagai hamba-Nya yang sok ta’at, kami telah berbuih mulut berkoar agar hukum addin al-haq ditegakkan di muka bumi ini pada umumnya. Dan khususan di negeri Aceh, Bangsa “Teuleubèh” yang kami kencingi dan beraki tanah airnya setiap hari terang dan malam kelam. 

Namun kami malas menerapkannya. Bahkan di keluarga kami sendiri. Enggan menerima kebenaran yang sememangnya benar yang tak tertolakkan sepertimana yang addin ajarkan. Yang sedari beringusan kami tuntut. Di “balèë beüt”. Di bawah tunjuk-ajar “gurèë rangkang”. Sambil menghapal dan merapal kata. Ya, kami terlalu dhaif mengimplementasikannya di keseharian kami.

Pada suatu ketika, di suatu senja duka, saat khabar burung mencuat. Entah rahmat atau petaka. Ke “seurayuëng” perteduhan kami tiba. Langsung saja kami klaim sesatkan sesiapa yang berlainan dengan kami. Tanpa mahu periksa. Langsung saja kami hakimi, “si fulan sesat”. Beramai-ramai. Bermassal massa kami galang. Atas khutbah sang penebar khabar. Yang berdiri tegap di atas mimbar kaki lima. Yang bermuka tebal. Yang berjidat dihitam-hitamkan. Yang hentakan parau suaranya bercirikhaskan “beryakni” itu mampu menghipnotis khalayak. Bahkan elit bermisai lebat yang setiap pagi duduk bergelung di gedung merapat, masyuk membahas perihal detail demi rakyat, pun terikat. Oleh dengung bujuk-rayu sang pembisik. Sungguh picik.

Melebihi pengikut “Abdullah Bin Ubay”, kami terima dengan lapang dada segala pemburukan siapa pun. “Si fulan awak koëh puriëh, si Fulen cuw’ak!”, teriak kami, merasuk-rasuki diri. Hingga ke setiap inci permasalahan tanpa pernah kami pertanyakan kesahihan. Bangga mengunyah bangkai saudara kami yang dulu kami sepakattuturkan, “sikrak gafan saboëh keurunda”.

Wahai hewan, yang kehausan berkeliaran di padang tandus, mintalah siram hujan lebih untuk kami! Karena kami spesies dengan kaummu juga. Meskipun malu, kami tetap mengaku, juga hewan. Hanya mampu berbicara saja yang membedakan kami dengan kalian.

Wahai tumbuhan, yang masih tersisa dari kami gundulkan, serapkanlah nikmat hujan yang Rabb kita turunkan! Karena kami tak berupaya menghalangnya derasnya. Bahkan, seyakinnya kami akui, kamilah sumber penyebab rahmat ini terhalang.

Wahai alam, please, bersahabatlah dengan kami! Jangan kutuk kami lagi. Atas salah yang kami ulang! Sebab kami juga hamba-Nya yang belum sempurna akal.

Batèë Raya, Juli, 2016.


Note;

- Teuleubèh = Terlebih/termulia
- Balèë beüt = Balai pengajian
- Gurèë rangkang = Guru pengajian/Teungku.
- Seurayuëng = Emperan.
- Beryakni = Lebai
- Abdullah bin Ubay = Tokoh Pembawa khabar dusta.
- Awak koëh puriëh = Pengkhianat
- Cuw’ak = mata-mata musuh.
- Sikrak gafan saboëh keurunda = ikrar mahu ditanam dalam sebungkus
  kain kafan dan dalam sebuah keranda.


--o0o--

Tulisan ini kami kutip dari media online AcehTrend yang ditulis oleh Arhas Peudada, semoga bermanfaat.

Kamis, 14 April 2016

Islam dan Problematika Lingkungan



ISLAM adalah agama yang ajarannya bersifat universal yang diperuntukkan kepada seluruh umat manusia. Sebetulnya kalau kita merujuk kepada kitab suci Alquran dan berbagai kitab suci lainnya, tampak jelas bahwa bencana alam dan krisis lingkungan telah lama disinyalir dalam Alquran, sebagaimana firman Allah Swt: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat tersebut secara eksplisit menegaskan bahwa kerusakan disebabkan oleh ulah tangan manusia sendiri. Bencana yang datang silih berganti mengiringi kerusakan alam. Dalam Tafsir al-Misbah, Qurasih Shihab menjelaskan bahwa terjadinya kerusakan merupakan akibat dari dosa dan pelanggaran yang dilakukan oleh manusia sehingga mengakibatkan gangguan keseimbangan di darat dan di laut. Sebaliknya ketiadaan keseimbangan ini, megakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin besar kerusakan terjadi terhadap lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya terhadap manusia.

Para penafsir klasik semisal Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir) dan al-Qurthubi (al-Jami’uliah Kamil Quran). Ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kerusakan (fasad) adalah perbuatan syirik, pembunuhan, maksiat, dan segala pelanggaran terhadap larangan Allah Swt. Pandangan kedua mufassir ini berbeda dengan penafsiran Quraish Shihab, tidak melihat makna fasad sebagai kerusakan alam yang akan menimbulkan penderitaan bagi manusia.

Hal ini bisa dipahami karena pada zaman mereka alam masih asri dan tidak terjadi kerusakan alam yang parah seperti saat ini. Jika kedua ulama tersebut hidup di zaman sekarang, tentu mereka akan menafsirkan ayat tersebut senada dengan Quraish Shihab, orang pertama di Asia Tenggara yang meraih gelar Doktor dalam bidang tafsir Alquran.

Bermakna lingkungan

Kata al-bi’ah terulang dalam Alquran sebanyak 15 kali, meskipun mempunyai arti lain seperti berulangkali, memancing, mengundang, dan berkonotasi “pulang kembali”. Kata al-bi’ah yang bermakna lingkungan terdapat dalam Alquran (QS. Ali Imram: 21; QS. Al-A’raf: 74); QS. Yunus: 93; QS. Yusuf: 56; QS. An-Nahl: 41; dan QS. Al-Ankabut: 58). Ayat-ayat tersebut dalam Alquran, berkonotasi pada lingkungan yang terbatas pada manusia.


Allah Swt menciptkan alam semesta ini untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagaimana firman-Nya: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah: 13).

Ayat di atas menjadi landasan teologis pembenaran pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) untuk memenuhi kebutuhan manusia. Meskipun Islam tidak melarang memanfaatkan alam, Islam menetapkan rule of game-nya. Islam memerintahkan pemanfaatan alam dengan cara yang baik dan menjadi manusia yang bertanggung jawab dalam melindungi alam dan lingkungannya, serta larangan merusaknya.

Menurut Quraish Shihab, etika pengelolaan lingkungan dalam Islam mencari keselarasan dengan alam sehingga manusia tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tapi menjaga lingkungan dari kerusakan. Setiap kerusakan lingkungan harus dilihat sebagai perusakan terhadap diri sendiri. Pandangan ini berbeda dengan sebagian teknokrat yang memandang alam sebagai alat untuk mencapai tujuan konsumtif.

Tuntunan moral Islam dalam mengelola alam adalah larangan serakah dan menyia-nyiakannya. Allah Swt berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Larangan berlebihan dalam ayat diatas mencakup segala sesuatu, termasuk memanfaatka alam. Alam dimanfaatkan seperlunya saja. Karena itu, eksploitasi besar - besaran mengakibatkan rusaknya habitat alam. Islam memandang pemanfaatan alam tanpa secara membabi-buta merupakan suatu bentuk kezaliman dan akan merugikan manusia sendiri. Berlebih-lebihan dalam pemanfaatan alam dipanadang suatu perilaku mubazir dan dicela oleh Islam.

Menjaga Alam

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, penamaan surat-surat dalam Alquran dengan mengambil nama hewan, seperti al-Baqarah (Sapi), al-An’am (Binatang ternak), al-‘Adiyat (Kuda), an-Nahl (Semut), dan al-‘Ankabut (Laba-laba); Nama tumbuh-tumbuhan seperti at-Tin (pohon Tin), dan pertambangan misalnya al-Hadid (Besi), atau nama alam lainnya seperti al-Fajri (waktu Fajar), adz-Dzariyat (Angin yang menerbangkan), dan asy-Syams (Matahari), dan sebagainya adalah isyarat agar manusia sadar bahwa dirinya terikat dengan alam sekitarnya. Sehingga manusia tidak lalai menjalankan kewajibannya menjaga kelestarian alam.


Betapa besarnya perhatian Islam terhadap alam, sebuah hadis meyatakan, “Barangsiapa memotong pohon bidara, niscaya Allah akan mencelupkan kepalanya ke dalam api neraka.” (HR. Abu Daud). Sebagian ulama fiqih memahami hadis ini sebagai larangan menebang pohon bidara di sekitar kota Mekkah dan Madinah. Tapi menurut Yusuf Qaradhawi, kalimat tersebut ditafsirkan sesuai dengan teks lahirnya yang mengandung makna umum. Sehingga dengan demikian akan diperoleh suatu kesimpulan, bahwa Islam melarang menebang pepohonan secara sia-sia.

Pentingya memelihara alam, tercermin dalam pidato Abu Bakar ra di depan angkatan perang kaum Muslimin saat akan berangakat untuk menggempur raja Ghassani yang telah memerintahkan pembunuhan atas utusan Nabi Muhammad saw di masa-masa akhir hidupnya. Abu Bakar dalam pidatonya melarang pembunuhan terhadap anak-anak dan orang tua, merusak dan membakar pohon kurma, dan menebang pohon-pohon yang berbuah.

Dalam beberapa Allah menyatakan bahwa seluruh langit dan bumi serta makhluk di dalamnya bertasbih memuji Allah Swt, seperti terungkap dalam Alquran (QS. An-Nur: 41; QS Al-Hadid: 1; QS. Shaad: 18). Manusia harus senantiasa menghormati alam kareana ia adalah makhluk Allahyang senantiasa bertasbih kepada-Nya.

Manusia harus mengiringi alam bertasbih memuji Allah Swt, antara lain memelihara kelestarian alam dan mengarahkannya ke arah yang lebih baik (islah), dan bukannya melakukan kerusakan di bumi (fasad fil ardl). Islam membolehkan pengelolaan bumi dan pemanfaatannya dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlangsungannya.

Tulisan ini saya kutip dari rubrik opini pada media Serambi Indonesia tanggal 18 Maret 2016.
Ditulis oleh:
Zulfajri, SHI.,
Pengurus Lembaga Bantuan Hukum dan Advokat BKPRMI Banda Aceh.
Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh.
Email: fajriyusfa@gmail.com

Rabu, 13 April 2016

AL-FITNAH




referensi ini saya kutip dari akun facebook mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang diposting pada tanggal 12 April 2016. Semoga bermanfaat.


Fitnah itu termasuk kedalam kategori "menimbulkan kerusakan di bumi" yang menurut Al-Qur'an dapat dihukum mati, sama seperti murtad dan membunuh orang. Tentu yang dimaksudkan disini bukanlah yang sekaliber dengan gossip bisik-bisik para tetangga. Itu mah kecil walau tetap dosa besar. Ada banyak fitnah yang dapat menyebabkan kerusakan/pertentangan di muka bumi.


Fitnah itu ibarat menabur kapas kedalam angin. Kapasnya beterbangan kemana-mana. Tak mungkin lagi memungut semua kapas itu.
Maka, jagalah mulut dan tangan kita masing2.

Selasa, 12 April 2016

"SEMESTA CAHAYA"


Sinopsis:
--o0o--

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”


Tak terkira lagi isakan tangisan yang pecah dan air mata yang tumpah ketika bibirku terbata-bata mengulang ayat-ayat terakhir tersebut. Kuulangi lagi, kuulangi terus hingga dadaku sesak dibuatnya. Ternyata tidak butuh waktu lama, Allah menjawab segala do'a yang bermuara pada-Nya, termasuk do'a seorang hamba yang hina sepertiku.

Maka benarlah jika shalat dan do'a adalah tumpahan kata-kata berbalut sesal dan resah kita pada Allah, maka Alquran adalah kata-kata dan jawaban Allah untuk setiap do'a kita.

Setelah hari itu segalanya berubah, bukan karena negara api menyerang. Melainkan karena hidayah yang diawali mimpi yang kudapatkan beberapa waktu yang lalu. Mimpi tentang semesta antah berantah yang menjadi titik balik bagi hidupku.

Aku memutuskan untuk berhijrah dari segala segi. Hijrah keyakinan agar sepenuhnya tertambat pada-Nya, hijrah pemikiran, hijrah dari kesenangan dunia yang melalaikan, dan hijrah dari tingkah laku dan kepribadian.
Bukankah hijrah adalah bukti cinta? Meninggalkan apa apa yang Allah benci menuju apa yang Allah cintai.

--o0o--

Semoga bermanfaat 😊

Aceh 2025



"Kitalah sekalian pelajar dan mahasiswa, penggerak semua keadilan untuk zaman kini dan zaman hadapan. Dengan izin Allah Ta'ala, di tangan kitalah nasib jutaan orang Aceh pada zaman ini dan zaman hadapan. Kita hidup demi bangsa, kita membela dan memperjuangkan akan perbaikan nasib jutaan orang."

#Aceh2025_1446H

#SebuahNovel

#ThayebLohAngen

Nikah Itu Untuk Bahagia; Bukan Pamer di Sosial Media


Musim nikah (udah kaya duren, ada musimnya) adalah musim kebahagiaan untuk pasangan mempelai dan dua keluarga yang dipersatukan. Tapi seperti siang pasti ada malam. Sama halnya bahagia, pasti ada yang bersedih melihat orang lain bahagia. Yaitu mantan yang pernah bahagia bersama dia yang sekarang bahagia dengan yang lain. Tinggal itung aja dah, berapa mantan yang pernah dimiliki. Mudah-mudahan tidak melebihi tamu undangan yang hadir, agar tidak ada asosiasi mantan-mantan bahagia. 

Pasangan yang baru merasakan manisnya pernikahan biasanya sering share-share foto pernikahan, foto pre-wedding, foto akad, foto resepsi, foto makanan tamu, foto parkiran resepsi, foto mantan yang dateng manghadiri undangan. Mungkin maksudnya untuk membagi kebahagiaan ke semua orang, termasuk mantan, para temen yang jomblo, termasuk emak gua yang sudah bisa main facebook. Semua bahagia kan, termasuk gua yang semakin bingung nyari alesan apalagi kalau ditanya kapan mau nikah.

Bahagia itu urusan perasaan, bukan kelihartan banyak orang. Bahagia itu adalah sesuatu yang harus disyukuri, bukan untuk dipamerkan. Khawatir ada yang mendoakan kurang baik dan mengurangi kebagaiaan kita. Dan menjaga hati-hati yang masih sendiri karena belum mendaptkan yang dinanti.

Kita tidak akan tau kedepannya seperti apa, karena dalam hidup semua memiliki kemungkinan. Mungkin suami ada yang suka dan rela jadi bini kedua setelah lihat fotonya yang gagah. Mungkin bisa jadi mantan, setelah banyak foto yang di upload.

Yang pasti, rendah hati itu sangat dihargai walaupun kita mampu untuk melakukannya. Menghargai perasaan dan keadaan orang, akan membuat kita terlihat simpatik dan mengundang doa-doa baik. Karena kita hanyalah anak manusia yang mencoba belajar mencintai tanpa melupakan takdir. Belajar untuk menciptakan kebahagiaan tanpa anda yang terluka. 

Sumber:

Selasa, 29 Maret 2016

Bangkit Pemuda

"Tua bukanlah pilihan, ia hanya soal waktu, dan muda bukanlah anugerah, melainkan hanya amanah yang pasti akan dimintai tanggung jawab."

Sering dengar kata-kata ini kan? Yaa!! itulah kalimat yang pernah dilontarkan Sang Deklarator Kemerdekaan Indonesia; Ir. Soekarno, tokoh muda yang telah mengukir Indonesia dalam rentetan sejarah negara-negara di dunia. Teman-teman pasti sangat paham akan makna dari kalimat tersebut, beliau menggambarkan usia layaknya sebuah kekuatan, dan 100:1 adalah gambaran yang jelas akan perbandingan usia antara orang tua dan pemuda dari segi kekuatan dalam konteks membela negara kala itu.

Nah lantas apa yang akan kita lakukan sebagai generasi muda hari ini? terus tunduk pada yang tua dengan alasan menghormati atau alibi bahwa mereka lebih paham dan berpengalaman dalam hidup? Tentu jawabannya tidak kawan!! Sadarlah bahwa agama, bangsa dan negara bukanlah berada dipundak para orang tua, namun di lengan kita para generasi muda yang akan mewarisi estafet kepemimpinan dan membawa rakyat kearah yang lebih baik.

Ingatlah kita pada Rasulullah Muhammad SAW yang mengemban amanah dari Allah SWT untuk menyiarkan Islam ke seluruh isi bumi juga pada usia yang sangat muda. Selayaknya itu menyadarkan kita pada paradigma salah bahwa yang muda belum saatnya bicara seperti yang pernah dikutip dalam salah satu iklan rokok di Indonesia. sudah saatnya kita merubah pola pikir kita ke arah yang lebih wow... c'mon to be;

"Yang muda yang beragama..
"Yang muda yang bertindak..
"Yang muda yang memimpin..
"Yang muda yang bekerja..
"Yang muda yang berkarya..
"Yang muda yang berjaya..

Semoga tulisan ini dapat mengisprirasi saya pribadi dan dan rekan-rekan muda lainnya akan tanggung jawab besar menjadi generasi muda, tidak hanya menikmati hidup namun juga memaknai kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik. Amiin yaa Rabbal 'alamin..