Selasa, 12 April 2016

Nikah Itu Untuk Bahagia; Bukan Pamer di Sosial Media


Musim nikah (udah kaya duren, ada musimnya) adalah musim kebahagiaan untuk pasangan mempelai dan dua keluarga yang dipersatukan. Tapi seperti siang pasti ada malam. Sama halnya bahagia, pasti ada yang bersedih melihat orang lain bahagia. Yaitu mantan yang pernah bahagia bersama dia yang sekarang bahagia dengan yang lain. Tinggal itung aja dah, berapa mantan yang pernah dimiliki. Mudah-mudahan tidak melebihi tamu undangan yang hadir, agar tidak ada asosiasi mantan-mantan bahagia. 

Pasangan yang baru merasakan manisnya pernikahan biasanya sering share-share foto pernikahan, foto pre-wedding, foto akad, foto resepsi, foto makanan tamu, foto parkiran resepsi, foto mantan yang dateng manghadiri undangan. Mungkin maksudnya untuk membagi kebahagiaan ke semua orang, termasuk mantan, para temen yang jomblo, termasuk emak gua yang sudah bisa main facebook. Semua bahagia kan, termasuk gua yang semakin bingung nyari alesan apalagi kalau ditanya kapan mau nikah.

Bahagia itu urusan perasaan, bukan kelihartan banyak orang. Bahagia itu adalah sesuatu yang harus disyukuri, bukan untuk dipamerkan. Khawatir ada yang mendoakan kurang baik dan mengurangi kebagaiaan kita. Dan menjaga hati-hati yang masih sendiri karena belum mendaptkan yang dinanti.

Kita tidak akan tau kedepannya seperti apa, karena dalam hidup semua memiliki kemungkinan. Mungkin suami ada yang suka dan rela jadi bini kedua setelah lihat fotonya yang gagah. Mungkin bisa jadi mantan, setelah banyak foto yang di upload.

Yang pasti, rendah hati itu sangat dihargai walaupun kita mampu untuk melakukannya. Menghargai perasaan dan keadaan orang, akan membuat kita terlihat simpatik dan mengundang doa-doa baik. Karena kita hanyalah anak manusia yang mencoba belajar mencintai tanpa melupakan takdir. Belajar untuk menciptakan kebahagiaan tanpa anda yang terluka. 

Sumber:

Minggu, 10 April 2016

Renungan Kocak; Ke-Anehan Indonesia


Suatu waktu di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ada pertemuan yang mengklasifikasikan bangsa-bangsa di dunia berdasarkan bicara dan kerjanya.

Setelah bersidang untuk menelaah semua informasi yang terkait, maka dibagilahbangsa-bangsa di dunia ini menjadi empat kelompok.

Kelompok pertama; yang sedikit bicara sedikit kerja (Negara-negara Afrika)

Kelompok kedua; yang sedikit bicara banyak kerja (Jepang, Korea, Cina)

Kelompok ketiga; yang banyak bicara banyak kerja (Amerika dan Eropa Barat)

Kelompok keempat; yang banyak bicara sedikit kerja (India, Pakistan, Bangladesh)

Delegasi Indonesia protes kok tidak masuk dalam kelompik manapun?Maka PBB kembali bersidang untuk meletakkan posisi Indonesia dimana. 

Setelah menganalisis berbagai sumber yang valid, meka mereka mengambil kesimpulan bahwa memang Indonesia tidak masuk dalam empat kelompok tersebut.

Mengapa?

Karena ternyata orang Indonesia “lain yang dibicarakan, lain yang dikerjakan”Coba diamati kebenarannya!!!

Kamis, 07 April 2016

Renungan; Lilin dari Si Miskin

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah Ayat 2)


--o0o--

Terdapat seorang gadis yang menyewa rumah, bersebelahan dengan kontrakannya terdapat rumah seorang ibu miskin dengan dua anaknya.
Suatu malam tiba-tiba listrik padam, dengan bantuan cahaya handphone gadis itu ke dapur untuk mengambil lilin, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kontrakannya...
Ternyata yang datang adalah seorang anak miskin dari ibu di sebelah rumahnya. Anak itu bertanya dengan risau, "Kakak punya lilin tidak?" gadis itu berfikir, dibenaknya tertanam kata “JANGAN PINJAMKAN, nanti akan menjadi kebiasaan untuk terus-menerus meminta.”
Maka si gadis menjawab, "TIDAK ADA!”. Lalu si anak miskin berkata lembut dengan senyum manis dan polos di bibirnya, “Saya sudah duga kakak tidak punya lilin, ini ada dua lilin saya bawakan untuk kakak, kami khawatir karena kakak tinggal sendirian dan tidak ada lilin.”
Si gadis yang merasa bersalah lantas menagis tersedu-sedu, dengan linangan air mata dia memeluk anak kecil itu erat-erat dan berkata, “Subhanallah, maafkan saya wahai adik.”

--o0o--

Jangan menilai keburukan orang lain hanya karena mereka kelihatan MISKIN/TIDAK MAMPU, INGAT…!!! Kekayaan tidak bergantung pada seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa kita mampu untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan, tidak peduli miskin maupun kaya.

Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa, dan kaya bukan berarti punya segalanya. Mungkin hari ini kita diatas tanah, tapi suatu saat kita pasti akan berada didalamnya. Hidup hanya sekali, maka usahalah untuk tidak hanya menjadi manusia sukses, tapi juga bernilai.


Diriwayatkan dari Musadad, diriwayatkan dari  Mu’tamar, dari Anas. Anas berkata: Rasulullah bersabda: Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan sedang berbuat zhalim atau sedang teraniaya. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami akan menolong orang yang teraniaya. Bagaimana menolong orang yang sedang berbuat zhalim?” Beliau menjawab: “Dengan menghalanginya melakukan kezhaliman. Itulah bentuk bantuanmu kepadanya."

Wallahualam Bishawab

Sengsara Membawa Berkah



Ada seorang Aceh dari kabupaten Pidie, menulis surat ke anaknya yang ada dipenjara Nusa Kambangan karena dituduh terlibat GAM (Gerakan Aceh Merdeka).
Bunyinya: "Hasan, Bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung, dan kamu ditahan di penjara pula, siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun jagung ini?"
Eh, anaknya membalas surat itu beberapa minggu kemudian. "Demi Tuhan, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sana," kata si anak dalam surat itu.
Rupanya surat itu disensor pihak rumah tahanan, maka keesokan harinya setelah si bapak terima surat, datang satu peleton tentara dari kota Medan. Tanpa banyak bicara mereka segera ke kebun jagung dan sibuk seharian mencangkul tanah di kebun tersebut.
Setelah mereka pergi, kembali si bapak tulis surat ke anaknya.
"Hasan, setelah bapak terima suratmu, dating satu peleton tentara mencari senjata di kebun jagung kita, namun tanpa hasil. Apa yang harus bapak lakukan sekarang?"
Si anak kembali membalas surat tersebut, "Sekarang bapak mulai tanam jagung aja, kan udah dicangkul sama tentara, dan jangan lupa ngucapin terima kasih sama mereka."
Pihak rumah tahanan yang menyensor surat ini langsung pingsan.

--o0o--

Makna dari cerita ini silahkan simpulkan sendiri

Ayam vs Manusia




VS




Anak ayam bertanya pada induknya..
Anak Ayam: "Mak, kita semua kok namanya sama, yaitu ayam. Nggak kayak manusia, masih kecil udah punya nama; Ucok, Bedol, Budi, Andi, dll.

Induk Ayam: Nak! Manusia yang masih hidup namanya memang banyak, tapi nanti kalau sudah meninggal namanya cuma satu, yaitu MAYAT, beda dengan kita.
Kita kalau sudah mati baru namanya banyak, ada Ayam Goreng, Ayam Bakar, Ayam Pop, Ayam Penyet, Sate Ayam, Opor Ayam, Gulai Ayam, Rendang Ayam, dan banyak lagi.

--o0o--

Cerita kocak dan humor di atas setidaknya menjadi bahan renungan untuk kita semua bahwa siapapun kita, apapun yang kita punya, dimanapun kita tinggal, kapanpun kita meninggal, maka semuanya hanya tinggal satu nama, "MAYAT"
Sudahkah kita bersiap untuk mendapat gelar tersebut? yang cepat atau lambat pasti akan tersemat menggantikan nama indah, nama besar, dan nama keren kita.
Mari memulai dengan Bismillah, semangat dalam memperbaiki diri hingga tiiba waktunya kita di wisuda oleh Malaikat Maut untuk menjadi bagian dari Sarjana bergelar "MAYAT"

Ibadah vs Akhlak


Wahai Syaikh..!! Ujar seorang pemuda, "Manakah yang lebih baik, seorang Muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaknya buruk ataukah seorang yang tidak beribadah tapi amat baik perangainya kepada sesama..??"

"Subhanallah, keduanya baik", ujar Syaikh sambil tersenyum.

"Mengapa bisa begitu?", lanjut si pemuda,

"Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing oleh Allah untuk berakhlak mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing oleh Allah untuk semakin taat kepada-Nya."

"Jadi siapa yang lebih buruk?" desak si pemuda,

Air mata mengalir di pipi sang Syeikh, lalu beliau menjawab "Kita Anakku.. Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri."

Beliau terisak-isak, "Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanya tentang diri kita, bukan tentang orang lain."

Wallahu'alam Bishawab..

Kamis, 31 Maret 2016

“Cinta Seorang Lelaki”



Berikut ini adalah cerpen mengharukan karya rekan saya Muhammad Razannur, seorang sarjana pertanian lulusan Universitas Almuslim Bireuen - Aceh yang mulai menemukan jati dirinya melalui karya sastra baik puisi, cerpen, maupun kata-kata motivasi. Selamat membaca dan menikmati karya beliau, kritik dan saran dapat langsung di posting di kolom komentar dibawah ini.

--o0o--

Dia adalah pemuda sebatang kara, hidupnya penuh dengan derai air mata hingga senyuman menjadi pelipu laranya. Dalam perjalanannya mencari kerja di sebuah kota, dia bertemu dengan satu keluarga yang tidak ada senyuman maupun canda. Ketika dia tau ternyata dalam keluarga tersebut, seorang istri yang ditinggalkan suaminya, dua orang anak perempuan yang ditinggalkan oleh ayahnya dan seorang ibu yang ditinggal pergi anaknya. Keluraga tersebut kelam dalam air mata, tanpa tawa yang mengisi hari-hari mereka. Pemuda tersebut bernama Rafa dan ia bertemu dengan seorang wanita tua yang juga sebatang kara. Wanita tersebut adalah tetangga dari keluarga yang tak punya lagi imamnya. Rafa mulai merasakan cinta dari seorang ibu yang selama ini belum pernah dicicipinya dan mereka berdua hidup bahagia.

Rafa bekerja pada sebuah restoran yang pemiliknya kini menganggapnya seorang anak. Kebaikan dan kejujuran yang Rafa berikan telah membawa kebahagian untuknya. Setiap hari sabtu dan minggu dia libur kerja dan duduk di rumah menemani ibu angkatnya. Melihat tetangganya yang selalu ribut dan bertengkar setiap harinya. Suara anak kecil menangis sampai suara seorang nenek yang memarahi menantunya. Di teras kamarnya Rafa melihat seorang gadis sedang duduk di samping jendela sambil menatap ke arah jalan. Wajahnya yang kusut dan air mata yang terus berjatuhan. Gadis tersebut bernama Safa, dia adalah seorang mahasiswi di perguruan tinggi di kota tersebut. Safa adalah sosok anak manja dan ceria namun semua itu berubah ketika ayahnya pergi tanpa kabar dan tak kembali sampai sekarang. Rafa terus terbayang-bayang dengan gadis yang memiliki lesung pipi di wajahnya hingga siang dan malam dia memikirkannya. Suatu ketika Rafa mencoba bertamu ke rumah tersebut dan dia pun di sambut manis oleh ibu dari gadis yang berlesung pipi itu.

Bulan demi bulan telah berlalu, Ibu angkat Rafa dan juga Rafa dengan tetangganya telah menjadi sebuah keluarga baru. Hari-hari bahagia mengisi keluarga tersebut, canda dan tawa mewarnai ruang-ruang di rumahnya Safa. Terkecuali Safa, dia tetap menjadi gadis pendiam dan jarang berbicara. Safa memiliki seorang sahabat yang bernama Iman, mereka selalu bersama terutama saat di Kampus. Iman adalah seorang anak dari keluarga yang kaya. Mereka berteman sudah sangat lama dan Iman menyimpan perasaan kepada Safa namun dia tidak ingin merusak persahabatannya. Rafa yang telah menjadi bagian dari keluarga Safa, seakan dia menjadi anak laki-laki dari keluarga tersebut. Kebahagian demi kebahagian terus dia lukiskan untuk keluarga tersebut dan juga kepada ibu angkatnya. Rafa merasakan adanya kesedihan mendalam yang disimpan oleh Safa. Rafa tak pernah melihat adanya senyuman dari wajahnya Safa hingga Rafa datang dan mengganggunya. Saat itulah bermula kedekatan mereka. Rafa selalu menemani Safa saat ia berada di rumah, mereka sudah seperti adik dan abang. Kebahagian terus-menerus ditawarkan oleh Rafa hingga Safa tersenyum juga.

Sejak hari tersebut, Safa selalu tersenyum ceria dan ia merasakan adanya kenyamanan dari pemuda yang telah memberikan pelangi untuk keluarganya. Safa mulai mengaguminya dan diam-diam mencintainya. Waktu terus berjalan dan kebahagian pun terus berdatangan. Akhirnya Rafa sadar jika Safa mencintainya namun gadis tersebut tidak mengetahui jika Rafa telah telah menyadarinya. Air mata Rafa berjatuhan saat cinta tulus hadir dalam hidupnya. Rafa tidak pernah memperlihatkan atau menceritakan kesedihannya kepada orang lain. Rafa terus memberikan kebahagian untuk orang lain dan dia mengubah duka menjadi senyuman. 

Rafa mulai menceritakan pada ibu angkatnya tentang Safa yang mencintainya. Air mata membasahi pipi Rafa saat ia bercerita tentang Safa kepada ibunya.
“Kenapa kau menangis nak?, bukankah cinta itu adalah kebahagian” tanya ibunya.
“Bu, aku sangat mencintai Safa. Saat pertama kali melihatnya, cinta itu telah ada dalam hatiku. Bu, aku menginginkan dia bahagia” jawab Rafa dengan suara lesu.
“Kaulah kebahagiannya dan kau yang telah mengajarkan senyuman kepadanya” ibunya berkata sambil mengelus-ngelus kepala Rafa.
“Tidak Bu, aku bukanlah kebahagiannya” kata Rafa.
“Nak, mengapa kau berkata demikian?” tanya ibunya.
“Bu, aku mengidap penyakit kanker jantung. Ibu ingat setiap sebualan sekali pada hari senin sampai selasa aku selalu berpamitan kepada ibu untuk pulang ke kampung halamanku. Aku bohong bu, setiap sebulan sekali aku harus periksa keadaanku. Terakhir aku memeriksanya keadaanku semakin buruk bu dan hari senin ini aku harus menginap di rumah sakit untuk perawatan intensif selama satu bulan. Bu, aku tidak ingin Safa menderita bila aku telah meninggal nanti. Aku ingin dia bahagia, lebih baik dia membenci ku daripada menderita seumur hidupnya. Bu, jangan katakan hal ini kepada orang lain terutama Safa dan sampaikan kepada Safa serta keluarganya bahwa kepergianku selama satu bulan nanti karena pulang kekampung halaman untuk bertunangan dengan kekasihku di sana. Aku yakin bu, saat dia mendengar kabar jika aku telah bertunangan mungkin dia akan melupakan cintanya. Bu aku ingin dia bahagia” cerita panjang Rafa sambil menangis kepada ibunya.

Air mata terus mengalir dipipi ibunya dan tangisan histeris pun tidak terelakkan. Telah tiba waktunya untuk Rafa menginap di rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama satu bulan. Rafa berangkat dari rumah ibunya dan juga berpamitan pada keluarga Safa. Saat Safa telah pulang dari kampus pada hari tersebut, dia mencari Rafa kesana kemari lalu bertanya kepada ibunya “Abang Rafa kemana bu? Dia tidak ada dimana-mana aku sudah lelah mencarinya”. “Rafa telah pulang ke kampung halamannya tadi pagi, katanya dia pulang untuk bertunangan dengan kekasihnya dan bulan depan dia baru balik kemari” jawab ibunya Safa. Kesedihan dan kekecewaan mulai merasuk pikiran Safa, perasaannya seakan hancur dan terjatuh seperti tetesan air matanya. Di dalam kamar ia mengurung diri dan menangisi kepedihan hatinya. Hari-hari dengan wajah murung dilalui oleh Safa hingga Iman datang dan menghiburnya. Safa menceritakan kesedihannya kepada Iman, dia sangat mencintai Rafa namun Rafa telah bertunangan dengan orang lain. Seketika Iman berjatuhan air matanya,dia sedih jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Orang yang selama ini ia cintai ternyata mencintai orang lain. Iman terus menghibur Safa sambil membuat dirinya tegar. Kesedihan terus mengarungi hari-hari Safa dan Iman.
Satu bulan kemudian, Rafa telah pulang dari rumah sakit dan orang pertama yang ingin dijumpainya adalah Safa. Safa yang telah kecewa berat dan ia tidak menghiraukan kedatangan Rafa ke rumahnya. Sejak hari itu sampai dengan sekarang ini, Safa yang telah lulus dari kuliahnya dan juga telah bekerja, ia tidak lagi peduli dengan Rafa. Jauh dilubuk hati terdalam, Safa masih sangat mencintai Rafa namun kebencian telah menutup hatinya. Setiap malam di dalam kamarnya, Rafa terus menangis untuk menepis kepedihan hidupnya. Rafa menginginkan kebahagian selalu ada untuk Safa, dan ia pun tau jika Iman juga tulus mencintai Safa. Rafa berencana untuk menyatukan Iman dengan Safa agar Safa bisa melupakannya dan bila ia telah meninggal nanti Safa telah memiliki seseorang yang selalu memberikan senyum untuknya. Sampai saat ini, tidak seorangpun tau tentang penyakitnya kecuali ibunya. 

Rafa mulai menjalankan rencananya dan dalam waktu tiga bulan, ia telah berhasil membuat mereka berpacaran. Safa yang masih membenci Rafa dan tetap tidak peduli dengannya. Rafa hanya tersenyum saat Safa selalu berpaling darinya bila mereka berjumpa. Rafa berkata dalam hatinya “Aku sangat mencintaimu Safa, aku ingin engkau bahagia dan Imanlah yang akan membahagiakanmu”. Waktu yang terus berjalan sampai akhirnya, Rafa berhasil membuat Iman untuk berani melamar Safa. Proses lamaran pun berjalan lancar hingga berujung kepada pernikahan, Safa masih tidak mau bicara dengan Rafa. Saat perayaan perkawinan Iman dan Safa, Rafa mendatangi mereka dan memberikan selamat. 

Ibunya yang menemaninya berjalan pulang setelah mengucapkan kata selamat kepada Safa dan Iman. Sesampainya di pintu rumah Rafa terjatuh pingsan, ibunya segara membawakannya ke rumah sakit. Dokter mengatakan “jika terjadinya penyumbatan aliran darah pada jantung Rafa dan telah terjadi pembengkakan pada cincin jantungnya”. Hidup Rafa hanya satu hari lagi dan penyakit yang dideritanya telah menggerogoti cinta dalam hidupnya.

Malamnya Rafa tersadar dan ia meminta kepada ibunya untuk memberikan surat yang ada di bawah bantal tidurnya di rumah kepada Safa. Tubuh yang lelah dan rasa sakit yang terpaku membuat Rafa tertidur kembali. Pagi telah tiba, Ibunya membangunkan Rafa dari tidurnya dan ternyata Rafa telah meninggal dunia. Pesan Rafa semalam segera dilakukan oleh ibunya. Surat tersebut langsung diserahkan kepada Safa. Saat Safa membuka surat dari Rafa dan membacanya, air matanya berjatuhan dan tak terhentikan. Dalam surat tersebut Rafa mengatakan jika ia sangat mencintai Safa dan menginginkan dia bahagia. Rafa tidak mau ada kesedihan yang menemani hari-harinya Safa, karena akhirnya nanti Rafa harus pergi dan tidak kembali untuk selama-lamanya. Tangisan histeris mengisi ruang tamu rumah Safa, ibunya dan neneknya sangat terkejut mendengar kabar tentang Rafa yang telah meninggal. Rafa begitu mencintai Safa hingga ia mencarikan kebahagian untuk Safa dan rela dibenci oleh Safa karena keinginannya itu. Mencintai menurut Rafa adalah memberikan kebahagiaan untuk orang yang disayang, menjaga perasaannya, melindunginya dan menghapus lukanya.


--o0o--